oleh HUSNI SUKRY PASARIBU

Sisingamangaraja

oleh janjimartahan.
Menurut cerita proses ajaib kelahiran Sisingamangaraja I bermula saat jatuhnya ‘jambu barus’ dari langit waktu Ibunya yaitu Siat Natundal istri dari Raja Bonanionan Sinambela, sedang mandi dan kemudian memakan buah tersebut.
gambar sisingamangaraja Lalu sebulan setelah kejadian itu maka mengandunglah Siat natundal tetapi sampai 3 tahun tidak kunjung lahir juga bayi dalam rahimnya. Kemudian hal ini membuat resah suaminya-Raja Bonanionan dan menanyakan keganjilan ini kepada Datu(Shaman), dan Datu itu berkata bahwa keanehan ini dikarenakan bahwa bayi yang dikandung istrinya itu ialah inkarnasi dari ‘Batara Guru’ dan Datu itu meramalkan bahwa bayi itu akan lahir pada tahun keempat.

Setelah 4 tahun kemudian lahirlah bayi tersebut dengan disertai oleh gemuruh halilintar, gempa bumi dan tanda-tanda keajaiban lainnya. Setelah bayi itu lahir, Sang ayah juga menerima Kitab Batara Guru dan didalam kitab itu disebutkan bahwa dia harus memanggil anaknya ‘Singamangaraja’. Dan sebab itu Singamangaraja I disebutkan sebagai inkarnasi dari Batara Guru dan mempunyai kesaktian.

Disini kita lihat bahwa ‘Batara Guru’ juga merupakan peresapan kebudayaan Hindu yang masuk ke dalam kebudayaan batak kuno dan beberapa kerajaan di daerah Sumatra, Jawa dan Bali.

Batara Guru berasal dari bahasa Sanskrit yaitu dari kata ‘Batara’ atau Lord dan ‘Guru’ atau Teacher. Dalam Kitab Negarakertagama disebutkan bahwa kelahiran Raja Hayam wuruk yang merupakan titisan dari ‘Batara Girinatha’ [ Hindu/Batak ]: Batara Guru mempunyai ciri yang sama dengan kelahiran Singamangaraja I yaitu dengan tanda disertai gempa bumi, gemuruh halilintar, hujan abu dan hal ini menjadi tanda bahwa Hayam Wuruk dipercaya sebagai inkarnasi dari Batara Girinatha atau Lord of Mountain.

Menurut Kepercayaan Hindu Batara Guru ialah nama lain/gelar untuk Dewa Shiva(Siwa) dan Hindu-jawa menyebutnya ‘Sang Hyang Batara Guru’.

Pengaruh kepercayaan hindu lainnya yang meresap kedalam kebudayaan batak kuno ialah tentang teori ‘Debata Natolu’atau Dewa 3 serangkai yang dalam kepercayaan hindu disebut Shivaitic Trimurti atau Maheshvaramurti yaitu terdiri dari ‘Batara Guru [ Maheshvara, Shiva], Soripada [shriPada, i.e. Vishnu ] and Mangalabulan (Mahakala)’.

Beberapa asimilasi dari kepercayaan hindu yang kemudian diikuti oleh Singamangaraja ialah mengenai larangan memakan hewan babi pada saat melakukan ritual ‘hoda debata’ dan larangan Singamangaraja untuk memakan daging babi & anjing seperti halnya para Brahmana yang lebih banyak menjadi vegetarian.

Sebagian Batak Scholar pernah berpendapat bahwa Singamangaraja tidak memakan hewan babi dikarenakan Beliau telah menjadi Muslim.
gambar stempel sisisngamangaraja Hal itu dikarenakan kedekatan hubungannya dengan Raja Aceh dan juga adanya aksara arab dalam Cap/stempel Singamangaraja. Walaupun ‘Teungku Aceh’ gelar untuk Singamangaraja, dekat dengan Raja Aceh tapi Beliau tidak menjadi Muslim dan mengenai aksara arab dalam stempel Singamangaraja ialah dikarenakan pada masa itu yang banyak dipakai ialah tulisan Jawi, oleh sebab itu Singamangaraja juga memakai aksara Jawi dalam stempelnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: